Selasa, 01 Mei 2012

mampir di Kandang Jurank Doang (II)

Wawancara dengan Dik Doang
KJD ini lahir dari kegelisahan, aku ini gak pinter tapi telah menjadi ‘sesuatu’ paling tidak menurut ukuran ibuku dan ibuku bangga akan hal itu, sementara banyak teman-teman yang dipuja karena angka-angkanya bagus tapi tidak menjadi apa-apa, tapi itu juga bukan ukuran surga dan neraka. Jadi ternyata cinta Allah itu abstrak setiap orang ditugasi dengan caranya, nah aku memulai dengan pendidikan, bahwa aku pikir kalau sekolah menjadi mahal kelak akan menggerogoti bangsa ini dan kelak akan ada Tsunami yang lebih dahsyat dari Tsunami di Aceh bukan oleh air tetapi oleh gelombang kebodohan dimana-mana, yang keluar dari pendidikan malah mencari kerja bukan menciptakan lapangan kerja... klise memang... tapi itu sebenarnya sesuatu yang menjadi dasar telah  diabaikan, lalu Dik Doang dibilang baik melakukan ini, padahal buat aku baiknya dimana ? karena semua orang harus melakukan perbuatan baik tapi karena orang tidak melakukannya, aku dianggap baik itu kan aneh. Aku pikir Sakinah itu tentram, Mawadah akan mewadahi lingkungan yang menentramkan itu, maka aku pastikan negara ini akan mendapat Warahmah dari keluarga-keluarga itu jadinya aku ingin menanamkan ilmu pada anak, anak arrahman, anak arrohim agar ilmu itu bermanfaat bagi dirinya dan bermanfaat bagi  orang lain dan insya Allah makin dekat dia dengan agamanya dengan tuhannya dengan dia berilmu, jadi kalau ada pendidikan akhirnya bersandar pada kedudukan dan jabatan aku rasa bukan itu tujuan kita.
Sejatinya tujuan pendidikan itu seperti apa menurut pandangan bang Dik ?
Ki hajar Dewantoro menamakan tempat belajar itu Taman siswa bukan sekolah ! jadi aku bilang kita belajar bisa dimana saja. Sekolah itukan tempat mengasah, mengasah bisa di bawah pohon, di bawah rintik hujan dan dimana-mana karena pengertian belajar itu di sekolah orang hanya berpikir belajar itu cuma di sekolah dan di luar tidak ada tata krama, di persimpangan tidak ada sopan santun jadi cuma sekolah saja yang jadi tempat belajar padahal itu adalah asahan. Kebenaran adalah keburukan yang terasah, kebajikan itu kebenaran yang telah teruji dan sekolah itu harus tempat salah karena di luar itu menjadi kebenaran, tapi kalau segala sesuatunya menjadi benar di sekolah misalnya orang harus rangking sekian dan segala macamnya, pertanyaannya adalah dimana posisi baik dan buruk, neraka dan surga, salah itu harus ada, nah di sekolah itu orang boleh mencoret kertasnya sendiri kalau salah gak usah dihapus teruskan saja karena jika sudah di alam kehidupan kita tidak boleh salah. Kalau kau belajar mengemudi ya harus di tempatnya tapi kalau di luar itu salah atau nabrak tidak boleh, nah konsep harus benar di sekolah itu tidak ada ruang-ruang kesalahan-kesalahan, ini yang menjadi tidak terjadinya keseimbangan. Jadi semua ada ruangnya, kamu boleh telanjang tapi di kamar mandi dsb, jika ruang dan waktu itu presisi atau tepat makanya itu di sebut moment. Jadi kalau ada orang terkenal itu karena ruang dan waktunya telah bertemu. Kita harus mencari tahu bagaimana supaya kita bisa menyatukan ruang dan waktu itu selalu seiring.
Terkait penamaan tempat ini kenapa harus memakai Kandang Jurang Doang ? Apa ada makna sendiri ?
Allah juga memberi makna sendiri pada nama Muhammad dengan huruf double M, Allah dengan huruf L double tapi nama lain tidak diberi huruf double. Jadi ketika aku bermesraan dengan kehidupanku kujadikan ini kemesraanku sendiri, KJD apa sih itu ? tapi ini adalah benih-benhih penderitaan yang kunikahi maka orang tidak berpikir KJD itu adalah sesuatu yang naif tapi cinta-Nya yang telah diberikan kepadaku di Ciputat ini dengan bentuk yang sangat abstrak sekali. Jadi silahkan berikan anakmu, lingkunganmu dengan kemesraanmu yang lahir dari cahaya pengetahuan dan ilmu. Kandang itukan tempat binatang, padahal binatangkan ingin bebas, disinilah kesalahan memandang cinta secara keliru padahal kalau benar misalnya tanamlah biji, siramlah, beri pupuk dia akan tumbuh dan berdaun rindang kemudian kita berteduh di bawahnya burung-burung menghampiri dan sebagai konsekuensinya kita harus menyapu daun-daun yang berguguran. Sabda Rasullulah turun, apa yang kamu khawatirkan terhadap burung-burung itu, bukankah setiap kali musim berganti burung-burung itu tinggal mengambil hasil panen, ketika kemarau berkepanjangan dia tinggal menukik di lautan, ikan-ikan sudah tergenang di permukaan dan hanya karena ego kita manusia, burung kita pelihara kotorannya mengering terjadi flu burung lalu unggas kita bantai apa yang terjadi tidak ada keseimbangan, ulat bulu dimana-mana padahal itu makanan pokok burung. Apa kita tidak bisa ayatnya ‘Iqro’.
Kata Jurang, jurang itu pemisah antara dataran tinggi dengan dataran rendah antara si miskin dengan si kaya, selama ini banyak sekolah kaya anak miskin tidak bisa masuk begitupun sekolah orang miskin orang kaya tidak berkenan di situ, lalu kapan mereka pernah bersentuhan, nah di KJD ini aku harap tidak ada lagi pemisah itu. Yatim piatu itu sesungguhnya adalah yang ditinggal ayah dan ibu, tapi dalam tingkat yang lebih tinggi lagi ditinggal bapak miskin pendidikan ditinggal ibu miskin kasih sayang, jadi kalau ada ibu tidak punya suami tapi punya anak jangan diberi kasih sayang tapi beri dia pendidikan demikian pula sebaliknya. Dalam esensi ini kebanyakan orang salah paham menganggap pendidikan adalah tugas ibu bukan sebagai tugas bapak. Sehingga banyak sekali yang menitipkan pada ibu dan jeleknya lagi anak-anak menjadi manja selalu ingin instant. Pada tingkat yang lebih tinggi lagi yatim piatu itu adalah miskin iman dan akhlak. Jadi pengertian yatim piatu di dalam marifatnya adalah orang yang miskin iman dan akhlak, boleh jadi dia adalah anggota DPR, pejabat atau lainnya jika dia tidak punya iman dan akhlak maka dialah yatim piatu sesungguhnya, kita tinggal lihat saja apa yang yang terjadi pada saat mereka memimpin. Rasullulah tidak pernah mengajarkan kita untuk meminta tapi  kita yang mampu memberi, tetapi kenapa sekarang ada tulisan rumah yatim piatu memasang nomor teleponnya besar-besar, bikin yayasan dan membuat proposal, sebenarnya tidak ada yang salah akan hal itu tapi cukup Allah sebagai dukungan. Ini jalan berat, jalan tidak berujung tapi ketahuilah ada batasannya seperti Al-quran diturunkan ada masa 22 tahun, 2 bulan, 22 hari jadi jika hanya baru 2 tahun atau 5 tahun kita sudah berkeluh kesah berarti dia terlau berkecil hati. Alam mempunyai cara sendiri untuk merapikan dirinya sendiri....

Oleh :Muhlisin, Romly R, Agus “rokas” soemarno

Selasa, 03 April 2012

Mampir di Kandang Jurang Doank (KJD) – Tangerang Selatan

Bagaimana sejarah KJD bisa sampai di Kota Tangerang Selatan ini ? untuk sejarahnya mungkin cerita dari Bang Dik (Dik Doang maksudnya) lebih tahu dan lebih lengkap..tapi saya hanya menambahkan bahwa semangat di KJD ini adalah semangat untuk hidup saling berbagi dan bagaimana caranya membuat sekolah bagus tapi gratis, sebenarnya kami belum layak di sebut sekolah namun kami lebih suka disebut komunitas kreatifitas KJD. Di dalam Komunitas ini ada berbagai macam kelas, karena kelasnya dimana kita mau belajar di situ buka kelas maka seringkali kami disebut juga sekolah alam. Bang Dik memulai dari mulai Kemayoran sampai pindah ke Ciputat, secara resmi KJD dibuka 23 mei 2005, semangatnya hidup saling berbagi dengan cara teman-teman yang mau berperan di sini mengambil pos-pos dimana mereka teman-teman yang mau berbagi atau mengisi, awalnya kami menyebutnya volunter/relawan yang identik dengan bencana padahal tidak ada bencana yang terjadi disini malahan keberkahan yang ada olehkarena itu kemudian bang Dik mengubah penamaannya menjadi pegawai sholeh (dengan harapan mereka menjadi sholeh dalam arti sebenar-benarnya).

Bang Dik juga punya visi bagaimana masyarakat sekitar juga mendapat berkah dan dapat berperan serta, kami tidak meminta bantuan kepada pemerintah atau pihak swasta namun kami membuat paket-paket kegiatan yang kami jual yang memanfaatkan alam sekitar misalnya dengan outing, memandikan kerbau, menangkap ikan, menanam padi dan lahan tidur yang kami manfaatkan untuk outbond. Dari semua yang dibayarkan itu uang yang berhasil didapatkan dari kegiatan paket paket tersebut kami sisihkan yaitu 60% kami masukan ke kas sekolah alam KJD 30% untuk pegawai sholeh, dan 10% lagi untuk kegiatan sosial seperti yang kami misalnya bhaki sosial, sunatan massal, santunan buat petani pada saat lebaran dsb. itulah kegiatan subsidi silang yang kami lakukan disini, semua kegiatan yang berkaitan dengan paket-paket itu dikenakan biaya namun kami dalam promosi KJD selalu lebih mengutamakan sekolah alamnya karena tidak ingin yang muncul image mencarai keuntungan semata karenanya kegiatan paket komersil sama sekali tidak pernah kami iklankan dan kami tidak ingin semangat KJD ini berubah semangatnya dari non-profit malah ke profit taking. Syukur alhamdullilah sampai sekarang KJD dapat berjalan lancar dengan sistem yang kami buat seperti itu.

Ada berapa kegiatan yang dilakukan di KJD ? lebih kurang ada 8 kelas terdiri dari kelas fotografi, perkusi, gambar, paduan suara, sanggar tari, kelas bola, gitar, vokal dan kelas komputer. Khusus untuk kelas gambar mereka harus mengikuti tes ala KJD kemudian apabila lolos baru mereka boleh menempati kelas-kelas tersebut. Silaturahmi antar kelas kami lakukan pada hari minggu pada kelas gambar dan yang mengisi adalah Bang Dik karena dialah yang berkompeten dalam gambar dan desain. Bagi kelas gambar tidak selalu mereka yang lulus seleksi namun bisa saja mereka yang berminat, bisa sekali datang atau kapanpun mereka datang bolehikut kelas gambar tergantung peserta bebas memilih.

Mas Fadly sejak kapan bergabung dengan KJD ? saya tinggal di kompleks ini sejak SMP (lokasi KJD ada di kompleks perumahan Alvita/Pondok sawah Indah), mulai intens bergabung sejak 3 tahun terakhir, di KJD kami tidak terikat seperti freelance begitulah, perlu saya terangkan soalnya tenaga disini saya sendiri merangkap di back office dan urusan lapangan di KJD. Sebenarnya bang Dik mau mengangkat semua yang terlibat sebagai pegawai, namun apalah daya karena dana terbatas dan apabila diangkat semua pegawai sekarang saja ada sekitar 70 orang oleh karena itu pegawai yang diangkat/ in house baru 15 orang selebihnya sifatnya freelance. Kecenderungannya apabila dari awal sudah ingin mencari uang mungkin dengan adanya seleksi alam pasti sudah pergi sendiri, namun bukan berarti saya sendiri tidak perlu uang namun saya mencoba menjalani yang dimaksud mas Dik. Berhadapan dengan anak didik kami dituntut kreatif, ayo teman-teman ciptakan sesuatu ciptakan sesuatu. Namun para pegawai sholeh disini diharapkan bisa bertindak lebih dari itu, maksudnya bahwa Mas Dik ingin mereka juga menjadi pembimbing, imam juga dan pedagang juga (Mas Dik sangat berkaca kepada rasullulah) akhirnya di buat oleh Mas Dik distro-distro dan siapa saja yang berminat silahkan ikut. Alhamdulillah apapun yang kami jual laku. Jadi untuk peserta kami pacu untuk kreatif dan bagi teman-teman pegawai sholeh kami harapkan produktif menghasilkan uang. Anak-anak sering diajak manggung dan sering mendapat fee baik dari transport atau uang lelah dsb mereka senang namun Mas Dik mengingatkan mereka supaya jangan sampai hanya mencari uang tapi harus banyak berkreasi sebanyak mungkin, dengan demikian diharapkan nanti pekerjaan atau uang akan mencari mereka.

Untuk jangka panjang harapan apa yang dinginkan oleh KJD ? diharapkan dari KJD lahirnya generasi / SDM yang berbeda dari sebelum sebelumnya dan diharapkan mempunyai jati diri yang cukup kuat. Sistem kelas berjalan selama 1 tahun dengan kurikulum ala KJD misalnya kami mulai dari sesuatu yang paling dasar dan bertahap seperti untuk belajar gitar kami mulai dari perkenalan kunci-kunci grif A, B, C dst , kemudian belajar membawakan lagu orang lain dengan rapi dan benar dan tahapan terakhir disuruh menciptakan lagu apa saja bebas semau mereka. Dan setiap hari minggu ada panggung yang kami namakan konser mingguan semua kelas naik pentas, ada yang nonton atau tidak ada yang menonton tidak masalah untuk melatih mental mereka. Dilakukan sore setelah sholat Ashar, paginya sekolah alam jam 08.00 sampai jam 10.00, kadang ada kelas untuk orang tua jam 10.00 sampai 12.00. Sekolah menjadi ibu juga diajarkan disini diharapkan si ibu dapat menyeimbangkan dengan pengetahuan si anak atau pengetahuan tentang gizi anak dan psikologi anak maka kami undang yang berkompeten di bidangnya. Singkatnya di sini adalah bekal seorang ibu terhadap anaknya, walaupun kami hanya sekedar diskusi namun diharapkan ada manfaatnya.

Kegiatan KJD hanya sampai magrib saja. Luas KJD kira-kira 2,5 Ha itu yang dilansir oleh sebuah artikel surat kabar Kompas hasil penghitungan mereka sendiri kami belum pernah mengitungnya secara tepat. Disini adalah lokasi KJD II, KJD yang pertama lokasinya di dekat rel, kemudian kami juga punya KJD III di kampung Cidokom kelurahan Rumpin Gobang dari terminal parung masuk ke arah Leuwiliang dan Jasinga perjalanan 1 jam dari situ di sana baru lokal kelas saja yang dibangun. Kelas yang ada disini intens kami adakan misalnya untuk kelas komputer yang hanya ada 8 buah PC maka apabila ada yang bolos selama 3 x pertemuan langsung dicoret dan digantikan dengan yang lainnya yang mau ikut. Tahun lalu saya mengajar tentang komputer dng cara yang mudah diterima misalnya untuk menyimpan data harus di simpan di laci (Folder maksudnya). Untuk kelas gambar mempergunakan komputer kami gunakan photopaint hingga photoshop. Untuk kelas fotografi ada yang sudah lulus, kriteria dianggap lulus karena foto-foto yang mereka hasilkan sudah bisa dinikmati padahal mereka baru duduk di bangku SMP. Usia didik di sini paling kecil usia kelas 3 SD, kecuali kelas gambar tidak ada pembatasan umur. Untuk teman-teman yang sudah besar disarankan selain ikut kelas diminta juga untuk ikut serta melancarkan proses pelajaran ikut membantu sebagai asisten atau pengasuh. Untuk sekolah alam kami prioritaskan bagi warga sekitar lokasi seperti daerah Pamulang, Ciputat dsk. Saya (fadly) sebagai Penanggung Jawab Umum KJD dan semua posisi setiap tahun selalu di rolling...

Oleh : Muhlisin & Agus “rokas” soemarno

Kamis, 01 Maret 2012

Mau kemana pasca Cipeucang batal beroperasi ?

Best Practice Penanganan sampah

Jika melihat persoalan di lapangan salah satu persoalan yg dihadapi oleh Tangsel adalah masalah sampah, sepertinya ini jadi salah satu fokus masalah yang harus diselesaikan.Bagaimana bapak melihat persoalan sampah di Tangsel ini ?

BEST konsen di penanganan sampah rumah tangga, sampah banyak menumpuk di pasar-pasar seperti Ciputat dsb sementara coverage pelayanan penanganan sampah oleh pemerintah biasanya baru hanya mencapai 20% dari total sampah yang ada. Jika penduduk Tangsel misalnya 1,3 juta jiwa dengan volume sampah yang dihasilkan perorang diasumsikan average 2 lt/hr, maka akan menghasilkan ± 2.600 m³/hr sampah demikian beliau menghitung secara gobal. Sekarang di Tangsel TPA sulit dan mau direncanakan di Cipeucang namun masih belum berjalan efektif, dengan sudah definifnya walikota Tangsel tentu sudah tidak bisa lagi membuang sampah di tempat lain misalnya di Jatiwaringin (Kabupaten Tangerang). Semua TPA di Indonesia masih Open Dumping, padahal target MDG’S kita UU No. 18/2008 diketahui bahwa 5 tahun setelah itu tidak akan ada Open Dumping dan coverage pelayanan sampah hingga mencapai 80%, padahal di Indonesia jangankan Open dumping TPA-nya saja sulit.

Lalu BEST harus mulai dari mana ? Muncul pertanyaan, sebenarnya siapakah yang menghasilkan sampah ? tentunya masyarakat, namun masyarakat itu sendiri juga persepsinya tentang sampah pertama masih menganggap sampah adalah sampah yang tidak berguna dan tidak berharga, tentunya masyarakat juga enggan berinvestasi di penanganan sampah namun jika untuk membeli emas, rumah dll mungkin mereka mau tapi untuk membayar sampah mereka tidak mau yang kedua masyarakat masih menganggap sampah adalah tanggungjawab pemerintah daerah/kota, padahal pemerintah sendiri tidak sanggup mengelola dan menangani sampah tanpa bantuan masyarakat. Jika coverage penanganan sampah oleh pemerintah kini hanya sekitar 20% lalu berdasarkan target MDGS harus naik hingga 70% tentunya mereka harus mencari cara how to achieve naik sesuai yang ditargetkan. Korelasinya biasanya anggaran untuk penanganan sampah dinaikkan 10 % misalnya, tapi ada laju inflasi 10%, pertambahan penduduk naik 3% , pertumbuhan ekonomi juga naik 3 % artinya secara real tidak berarti apa-apa kenaikan anggaran tersebut.

Harus disadari bahwa penghasil sampah harus membayar, volunter must be pay...konsep 3 R (Reduce, Resuse, Recycle) reduce misalnya jika makan harus dihabiskan, kalau beli obat ambil obatnya jangan ambil plastiknya. Kalau bisa di rumah tangga sampah dipilah, mana sampah basah (kita buat kompos) dan mana sampah yang kering, yang masih laku kita jual dan yang residu saja yang kita buang ke tempat sampah. Jadi konsepnya sampah kita tahan dari individu kemudian skala rumah tangga, lalu skala kawasan dan jika tidak mampu juga baru TPA. Namun paradigma yang ada sekarang adalah tidak ada pengurangan (reduce) tapi langsung ke TPA, padahal kita tahu di hilir TPA tidak ada di Tangsel, mungkin salah satunya siapa yang mau wilayahnya ketempatan TPA.

Oleh karena itu BEST sendiri juga kampanye terus menerus dengan SDM yang sedikit akhirnya hanya bisa main di tingkat kawasan, namun sekali touch 1.500 KK atau lebih. Saya membagi perilaku membuang sampah masyarakat dibagi dalam empat kelas : kelas pertama preschool cirinya adalah orang membuang sampah sembarangan,kelas kedua elementary, dia buang sampah pada tempatnya : tahap berikutnya buang sampah dengan dipilah-pilah , tahapan lanjutannya (advance) adalah sudah berperilaku dengan berusaha tidak menghasilkan sampah.

Pada perilaku mana sampah paling banyak ? yaitu di kelas preschool dan elementary. Namun yang terjadi pada para experts sampah selalu menyarankan melompat kelas, orang yang tadinya buang sampah sembarangan langsung disuruh memilah. Lalu misalnya dibuat pelatihan pengelolaan sampah 200 orang, dengan cara penyuluhan pemilahan dsb paling cuma mampu bertahan beberapa bulan saja lalu hilang karena kelas yang advance paling hanya beberapa orang saja misalnya seperti bu Banjarsari, dsb. Dalam hal ini BEST kemudian menetapkan ingin bergerak di kelas rata-rata saja skala kawasan (preschool dan elementary) dengan membuat TPST. Sampah dikumpulkan kemudian dibawa ke TPST, dipilah, ada yang dibuat kompos, recycle dan yang benar-benar residu 30% dibuang ke TPA. Persoalannya adalah siapa yang membayar penanganan sampah seperti ini ? kalau rakyat tidak mungkin karena terlalu mahal, tapi operasi dan maintenace mereka bisa. Oleh karena itu investment dari pemerintah , perawatan dan pemeliharaan oleh masyarakat, karena melibatkan masyarakat maka pembangunannya tidak bisa kontraktual atau borongan/pihak ketiga. Masyarakat harus dilibatkan. Biar mereka punya Sense of responsibliity. Mereka tahu anggaran dan penggunaannya,berapa biayanya ? dst. Kami coba di Mustika tigaraksa dan berhasil sampai sekarang dengan melibatkan masyarakat, dari sana kami coba di Telaga Bestari, kami ke Sidoarjo dan dimplementasi di sana dan juga berhasil. Menurut saya suatu kegiatan bisa disebut berhasil jika konsep itu bisa direplikasi di tempat lain. Kita tidak bicara pabrik kompos, tas atau yang lainnya tapi kami ingin mengurangi sampah yang dihasilkan. Jika kami membuat pabrik kompos bagaimana jika tidak laku ? masyarakat bisa frustasi akhirnya tidak ada insentif untuk mereka tentu bisa berakibat mereka bisa tidak tertarik lagi. Kami menempatkan Kompos tidak sebagai revenue utama bukan sebagai andalan pendapatan. Beberapa TPST yang kami pernah tangani yaitu di Sampora, Griya Serpong, Sarua, Villa Pamulang Mas, Bermis, Mustika Tigaraksa, Telaga Bestari dll.

Pada suatu siteplan perumahan pada saat dibuat fasos fasum cuma ada rumah ibadah, TK, taman, sarana olahraga dsb lalu tempat sampahnya mana ? nah dari cerita ini dalam target MDGS mestinya seorang manajer kota berpikir target MDGS tercapai, dan uang yg ada cukup. Karena jika harus mengejar menaikkan coverage pelayanan sampah hingga 70% dengan sistem angkut buang, maka berapapun uang pemda yang ada pasti tidak cukup. Waktu itu impian saya setiap perumahan harus mempunyai TPST sendiri dan bagaimana hanya 30% sampah yang benar-benar dibuang, dan pada saat pemda membuat incenerator maka akan dapat dilaksanakan. Kenapa incenerator gagal karena sampah yang ada adalah sampah yang belum dipilah atau terlalu banyak sampah basahnya sehingga kerjanya tidak maksimal,yang terbakar hanya bagian luar saja. Di Tangsel anggaran pengelolaan TPA hanya 100 juta/tahun dan hanya utk mendorong2 sampah saja sudah habis.

Bagaimana ngakali supaya masyarakat mau mengurus sampah. Filosofinya orang itu mau jika apa ?. Jika saya dapat memecahkan masalah saya dan dapat apa. Syarat-syarat ini yg kami buat dan dikemas. Kami LSM BEST berpikir bagaimana masyarakat harus untung, pemerintah untung, developer untung tapi adakah itu ? ternyata kami bisa melakukan itu. Manfaatnya ada masyarakat yg bekerja, pemerintah dapat untung juga, organisasinya juga mudah dikomplain dsb. Kami memang tidak melakukan pemilahan dalam skala rumah tangga, kami tdk sanggup, kami hanya menahan di skala komunitas. Mungkin kondisi ideal tercapai pada masa depan, generasi saya tidak melihatnya. Dari usaha kami telah tercapai achievement mereka termotivasi membuat tas dll. Umur TPA kita akan semakin panjang bisa 2 kali lipat, frekuensi angkut truk akan berkurang, kemacetan akan berkurang dan mengurangi emisi gas. Mengurangi gas metan ke udara di TPA melalui treatment sederhana ini.

Dulu pada saat awal-awal kami tidak dilihat orang namun sekarang banyak yang sudah minta. Kami tidak mengelola sampah di pasar, karena di pasar siapa yang akan membayar ? BEST tidak mengajari masyarakat untuk disubsidi meminta kepada pemerintah. Biarlah masyarakat hidup di sistem pasar, yang jika harus bayar, maka harus bayar.

Dulu di Mustika Tigarakasa bayar sampah Rp. 1000,- lalu jika ada 100 KK berarti hanya Rp. 100.000,- itupun belum tentu bayar tepat waktu, dan siapa yang mau dibayar mengelola sampah dibayar cuma Rp. 100.000,-, lalu coba dinaikkan menjadi sekitar Rp. 1.000.000,-/bulan sudah ada yang mau, artinya apa sesungguhnya iuran sampah yang mereka bayar tidak realistis, lalu lewat negosiasi selanjutnya disepakati rp. 4.000,-/bulan. Namuan konsep ini jangan dibawa ke skala kota karena akan banyak reaksi.

Saat ini di lapangan mereka yang mengelola TPST malah lebih banyak pengalamannya. Kami hanya memberikan basic knowledge saja. BEST melalukan people to people learning dari Mustika Tigaraksa kami minta mengajari di Telaga Bestari, dari Telaga bestari kami minta mengajari di Bermis dst. Saya hanya memanage resources itu berjalan. dengan intervensi sederhana.

Uraian pintu masuk ke komunitas ?

Pada bulan Juni 2004 BEST memulai program “Sampah Pro” di Tangerang. Program ini menggunakan motor kecil beroda tiga untuk mengumpulkan sampah pada rumah warga yang turut berpartisipasi setiap dua kali sehari. Setelah gerobak ini penuh, sampah kemudian diangkut ke TPS (Tempat Penampungan Sementara) untuk diangkut ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Kegiatan ini menarik perhatian beberapa warga perumahan Mustika Tigaraksa, perumahan baru dengan penghuni sekitar 1,600 keluarga berpenghasilan menengah bawah. Tidak ada layanan pengumpulan sampah resmi yang disediakan oleh pihak pengembang atau pemerintah daerah: pihak pengembang mengumpulkan sampah dengan jadwal yang tidak pasti, dan Pemerintah Kabupaten Tangerang bermasalah dengan keterbatasan kapasitas transportasi (hanya 700 m3/hari dari 2000m3/hari yang harus diangkut ke TPA) dan kurangnya tempat pembuangan. Pengelolaan sampah sulit berjalan dengan efektif jika ongkos yang ditarik hanya Rp. 1,000/KK/bulan. Sebagian besar sampah rumah tangga ditumpuk begitu saja di lahan kosong, sehingga merusak pemandangan dan menimbulkan risiko pada kesehatan masyarakat.

Kegiatan: Tiga gerobak motor kecil mengumpulkan sampah dari RT-RT yang turut berpartisipasi. Dua kali sehari pekerja ‘Sampah Pro’ memasuki lingkungan setempat dengan gerobak motor untuk mengumpulkan sampah. Di setiap gerobak motor dipasang pengeras suara yang memperdengarkan jingel dan kedatang gerobak ‘Sampah Pro’. Warga penghuni adalah anggota jaringan sampah pro, yang membayar bulanan untuk pengumpulan sampah, atau mereka membayar per kilogram sampah.

Bukan hanya pengumpulan sampah yang berkembang, tapi juga kegiaran daur ulang sampah. Diatas lahan yang disediakan oleh pihak pengembang, BEST membangun TPS yang juga berfungsi sebagai tempat daur ulang, dimana sampah dipisahkan menjadi sampah yang dapat didaur ulang, tidak dapat didaur ulang dan sebagai bahan kompos. Sampah untuk daur ulang meliputi kaca, plastik, logam dan kertas yang akan dijual ke pabrik untuk diolah kembali. Sampah yang tidak bisa didaur-ulang diangkut ke TPS pemerintah dua kali seminggu dengan truk. Sampah untuk bahan kompos dimasukkan dalam tong berisi bakteri selama dua minggu, lalu ditaruh di kotak terbuka untuk pengomposan lebih lanjut dan pengeringan.

Saat ini programnya tidak hanya untuk pengelolaan sampah. Didukung oleh kesadaran lingkungan yang semakin baik, kegiatan dalam berbagai aspek lingkungan dicoba, termasuk pembangunan Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) rumah sakit, pembangunan MCK plus ++ (WC umum dengan sarana tambahan), dan produksi biogas sebagai pengganti minyak tanah. Selama program tersebut berjalan, BORDA membantu BEST sebagai mitra konsultan dan membiayai pembangunan.

Hasil: Sampah dikumpulkan secara berkala, dan lingkungan permukiman dijaga kebersihannya. Kegiatan pemilahan sampah dan daur-ulang telah mengurangi 54% volume sampah yang harus dibuang dan memperpanjang umur TPA. Frekuensi pengangkutan sampah dari TPS ke TPA dengan menggunakan truk menjadi berkurang dari 45 kali sebulan menjadi 8 kali sebulan. Selain itu, para warga masyarakat mendapatkan penghasilan sekitar Rp. 600 ribu per bulan dari penjualan sampah kering dan kompos.

Secara keseluruhan pengelolaan sampah yang dilakukan cukup memadai dan secara perlahan mengarah pada prinsip pendanaan cost recovery (operasi dan pemeliharaan saja).


BEST dengan jelas menyatakan misinya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan prinsip partisipasi. Hal ini diterima dengan baik oleh warga yang ikut serta dalam program tersebut dan mereka memberikan respons positif terhadap jadwal pengumpulan sampah dan pembayaran iuran anggota sebesar Rp. 4,000/KK/bulan. Pengumpulan dana melalui penjualan kompos dan bahan daur-ulang semakin menopang kemandirian dan rasa percaya diri masyarakat.

Keberhasilan ini terjadi karena dukungan berbagai pihak ketiga; BORDA sebagai donor utama, lahan yang disediakan pihak pengembang sebagai sarana utama, dan pemerintah daerah mampu menyediakan pengangkutan sekunder ke TPA, karena jika hal ini tidak dilakukan akan membuat kondisi TPS semakin semrawut.

dari cerita di atas akhirnya mereka yang biasa buang sampah di sembarang tempat akhirnya berubah polanya, mereka tidak lagi membuang sampah ke sembarang tempat tapi mengumpulkan sambil menunggu petugas yang mengambil sampah. Namun ternyata ada sub sistem lain yang terkena dampaknya, supir truk protes karena sampah yang tadinya dibuang sembarangan akhirnya berubah arusnya menjadi dibuang ke TPS dan armada truk harus bekerja keras, frekuensi angkut sampah mereka menjadi naik. Jadi sesungguhnya bila ada kata bupati/walikota bicara buanglah sampah pada tempatnya sesungguhnya mereka sedang bullshit.

Pada tahun 2006 penanganan sampah di Mustika Tigaraksa menjadi acuan keluarnya Permen PU no. 21/2006 untuk disebar di seluruh Indonesia. Konsepnya sampah dari perumahan harus 30% saja dan pemerintah tinggal buat perda saja tentang hal itu.

Sampah tidak selalu bicara tentang uang tetapi lebih kepada manajemen dan konsepnya. Kepala SKPD tentu tidak sepakat karena hal ini akan menyaingi Tupoksi mereka padahal jika dilihat sebenarnya saling komplementer, padahal malah nama baik mereka akan terangkat. Untuk sampah pasar adalah tanggung jawab pemerintah, kami hanya menangani yang di tingkat komunitas.

Pemerintah sudah mulai memperlihatkan minatnya untuk melakukan hal ini. Untuk Tangsel sebenarnya jika political will-nya ada, tentunya akan terus bertambah TPST ini, karena diketahui bahwa banyak perumahan di Kota Tangsel. Best sendiri memang melakukan perubahan mindset pemkot/pemda dan mindsetnya masyarakat. Sekarang lebih mudah karena sudah banyak contoh tidak seperti dulu yang harus dilakukan dengan kerja keras. Saat ini kami malah kebanyakan permintaan.

Yang BEST lakukan pernah ditiru oleh Departemen PU dan dilakukan serentak di seluruh Indonesia dibuat secara massal bangunan-bangunannya tetapi tidak berhasil karena pendekatan yang dilakukan berbeda apalagi dibangun dengan mempergunakan kontraktor (kontraktual) karena Capacity building terhadap masyarakat tidak dilakukan. Coba perhatikan begitu antusiasnya mereka yang mengelola sampah di Bermis, lebih baik mereka sombong daripada minder. Jadi biarkan masyarakat dilibatkan penuh, mereka mengelola, dari mereka untuk mereka oleh mereka.

Apa yang menarik dari pengalaman bapak mengelola sampah selama ini ? yang menarik adalah saat ini banyak pemerintah daerah yang sudah berminat, ada trend yang berubah dari masyarakat, kedua adalah resistensi dari masyarakat yang kuat pada saat mereka tidak tahu. Kami pun tidak bisa memaksakan semua orang akan setuju dengan apa yang kami lakukan, mereka yang kontra tentunya menjadi proses pembelajaran bagi kami. Saya enjoy hingga sekarang melakukannya. Sekarang kami kelebihan order tahun kemarin proyek kami 70 proyek dengan SDM terbatas. Kami juga punya banyak kantor di tempat lain seperti di Medan, padang, Riau dll kami tidak kebingungan memilih tempat bekerja. Kami punya proyek gagal di Taman Banten Lestari, itu tandanya kita masih manusia. Kamipun cerita dan belajar dari yang gagal. Kami bangun 27 MCK dan 4 buahnya pernah gagal. Kami juga mendapat penghargaan dan evaluasi yang baik dari Jerman. Ada 7 organisasi yang mendapat bantuan penuh dari pemerintah jerman dan BEST juga dievaluasi sangat baik. Saya banyak belajar dari bangsa jerman yang berkemauan keras tidak mau mengalah, tepat waktu, sabar. Kami bekerja not only money tapi kami bekerja dengan membangun networking, sharing knowledge dan experience. Good heart in good living. Membela orang miskin tidak harus menjadi miskin tapi dilakukan dengan cara yang halal. Selain TPST kami juga punya yang kami namakan RBU (Recycle building Unit).

Wawancara dengan Pak hamzah Direktur BEST.(villa melati mas 2011) by Muhlisin, Sophie dan Romly R.

Rabu, 29 Februari 2012

Mengapa Tangsel Macet

MENGAPA TANGSEL MACET ?

Sudah seperti Kota Jakarta begitu orang bilang bila melihat kondisi lalu lintas di Kota Tangerang Selatan. Tidak hanya tiap pagi dan sore saat hari kerja, namun hari libur pun masih macet. Demikian setiap hari sehingga sudah menjadi bagian yang harus dinikmati pengendara terutama pengendara roda empat. Buat yang memakai roda dua masih bisa bebas bergerak pada saat kemacetan terjadi dan masih banyak jalan alternatif yang menjadi pilihan untuk dilalui guna keluar dari titik kemacetan tapi buat yang berada di kendaraan roda empat selamat menikmati kemacetan. Dari keadaan itu jika ditelusuri ternyata ada beberapa faktor penyebab kemacetan secara umum yaitu, :

· Terjadi kecelakaan lalu-lintas sehingga terjadi gangguan kelancaran karena masyarakat yang menonton kejadian kecelakaan atau karena kendaran yang terlibat kecelakaan belum disingkirkan dari jalur lalu lintas,

  • Terjadi banjir atau genangan air dan jalan berlubang sehingga kendaraan memperlambat kendaraan
  • Macet karena ada perbaikan jalan, ada pekerjaan galian kabel dsb
  • Kemacetan karena adanya pusat-pusat kegiatan seperti : pasar, mall, perkantoran, perumahan, pabrik/industri
  • Adanya penyempitan jalan (bottle neck)
  • Adanya persimpangan U turn sehingga kendaraan mengantri untuk berbelok

Beberapa hal negatif akibat terjadinya kemacetan antara lain :

· Kerugian waktu dan kesempatan , karena kecepatan perjalanan yang rendah

  • Pemborosan energi terutama BBM kendaraan
  • Keausan kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang pendek dan penggunaan rem serta kopling yang lebih tinggi,
  • Meningkatkan polusi udara karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal
  • Meningkatkan stress pengguna jalan
  • Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya

UPAYA NORMATIF PEMECAHAN PERMASALAHAN KEMACETAN

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas yang harus dirumuskan dalam suatu rencana yang komprehensip yang biasanya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

Peningkatan kapasitas

Salah satu langkah yang penting dalam memecahkan kemacetan adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan/prasarana seperti:

  1. Memperlebar jalan, menambah lajur lalu lintas sepanjang hal itu memungkinkan
  2. Merubah sirkulasi lalu lintas menjadi jalan satu arah
  3. Mengurangi konflik dipersimpangan melalui pembatasan arus tertentu, biasanya yang paling dominan membatasi arus belok kanan
  4. Meningkatkan kapasitas persimpangan melalui lampu lalu lintas, persimpangan tidak sebidang/flyover

Keberpihakan kepada angkutan umum

Untuk meningkatkan daya dukung jaringan jalan dengan adalah mengoptimalkan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan antara lain:

  1. Pengembangan jaringan pelayanan angkutan umum
  2. Pengembangan lajur atau jalur khusus bus ataupun jalan khusus bus yang di Jakarta dikenal sebagai Busway,
  3. Pengembangan kereta api kota, yang dikenal sebagai metro di Perancis, Subway di Amerika, MRT di Singapura
  4. Subsidi langsung seperti yang diterapkan melalui keringanan pajak kendaraan bermotor, bea masuk kepada angkutan umum dsj.

Pembatasan kendaraan pribadi

Langkah ini biasanya tidak populer tetapi bila kemacetan semakin parah harus dilakukan manajemen lalu lintas yang lebih ekstrim sebagai berikut:

  1. Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan tertentu seperti yang direncanakan akan diterapkan di Jakarta melalui Electronic Road Pricing (ERP). ERP berhasil dengan sangat sukses di Singapura, London, Stokholm. Bentuk lain dengan penerapan kebijakan parkir yang dapat dilakukan dengan penerapan tarip parkir yang tinggi di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya, ataupun pembatasan penyediaan ruang parkir dikawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya,
  2. Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan kendaraan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi.
  3. Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan tertentu, seperti yang diterapkan di Jakarta yang dikenal sebagai kawasan 3 in 1.

ANALISA MACETNYA TANGSEL

Jika melihat uraian teori di atas kemudian kita coba padukan dan analisa dengan kondisi nyata yang terjadi di Tangsel maka dapat diketahui bahwa :

1. Upaya pemecahan melalui peningkatan kapasitas hingga saat ini belum dirasakan cukup berarti. Betapa tidak diketahui Kota Tangerang Selatan yang banyak berdiri perumahan-perumahan ternyata mereka hanya membangun jalan sesuai kebutuhan dan rencana mereka saja, misalnya perumahan yang dilalui jalan raya maka jalannya diperlebar tetapi setelah melewati batas perumahan ternyata kemudian jalan raya itu menyempit kembali (bottle neck), hal ini menjadi salah satu penyumbang kemacetan seperti yang terjadi di depan Pom bensin petronas BSD dan tempat lainnya.

2. Gagalnya pemberlakuan sistem satu arah (SSA) yang hendak diberlakukan di Tangsel di ruas Jl. Raya Padjajaran, Jl. Raya Dewi Sartika, Jl. Raya RE Martadinata,. Jl. Raya Setiabudi hingga Jl. Raya Surya Kencana di mana semua kendaraan harus berputar di perempatan Gaplek, Ciputat karena sejumlah ruas jalan memang belum memadai serta tak memenuhi syarat untuk jalan satu arah.

3. Pelayanan jasa angkutan umum (angkot) di Tangsel belum bisa memberikan rasa nyaman dan aman seperti : terlalu lama ngetem, ngebut untuk rebutan penumpang, rawan tindak kejahatan dsb sehingga moda angkutan umum ini belum menjadi pilihan warga untuk bepergian kecuali mereka yang benar-benar tidak mempunyai kendaraan.

4. Moda transportasi Kereta Api juga belum menjadi pilihan warga padahal untuk kereta Api yang beroperasi di beberapa stasiun KA Tangsel sudah cukup memadai, masalahnya adalah belum tersedianya moda transportasi yang aman cukup nyaman dan aman setelah mereka turun dari kereta api selain itu jalur tujuan KA yang terbatas juga menjadi pertimbangan.

5. Banjir dan genangan air yang terjadi karena sedimentasi saluran air atau tergenangnya jalan karena tidak didukung saluran drainase yang cukup dan terintegrasi dengan baik. Di sepanjang jalan raya Serpong misalnya hampir seluruh saluran di kiri-kanan jalan tertutup lumpur dan sulit membersihkannya karena salurannya ditutup permanen/disemen akhirnya air meluap ke jalan dan mengganggu arus lalu lintas.

6. Banyaknya kendaraan truk yang hilir mudik melewati jalanan Tangsel menjadi salah satu penyebab kemacetan, pasalnya truk yang berjalan lambat karena beban yang berat saat membawa muatannya berakibat melambatnya arus lalu lintas di jalan raya. Dishukominfo Kota Tangsel saat ini sudah memberlakukan larangan beroperasi pada jam-jam tertentu bagi kendaraan jenis truk ini atau seharusnya Tangsel punya jalan by pass, jadi truk-truk besar itu tidak melewati jalan-jalan utama Tangsel namun lewat jalan by pass hal ini cocok sekali apalagi truk itu juga hanya sekedar lewat saja di daerah Tangsel.

7. Pusat-pusat kegiatan seperti mall, perkantoran, pabrik, perkantoran dan perumahan harus mempunyai Amdal lalu lintas yang benar-benar dapat dilaksanakan bahkan kini pihak kepolisian juga sudah mempunyai UU lalu lintas terbaru No 22 tahun 2009 dimana polisi sudah berperan dan berhak mengambil keputusan jika kebijakan pemerintah dalam pemberian ijin pendirian bangunan tidak memperhatikan potensi kemacetan di jalan raya.

8. Kebijakan lain yang sifatnya tidak langsung seperti upaya membatasi jumlah kendaraan dengan menaikkan biaya parkir, membatasi pemilikan kendaraan melalui pajak progresif, pengenaan pajak dan bea masuk yang tinggi atas pemilikan kendaraan serta hal yang berkaitan ternyata tidak berpengaruh banyak terhadap volume kendaraan yang berlalu-lintas di Tangsel.

9. Revitalisasi jalan-jalan alternatif yang menghubungkan wilayah Tangsel dengan wilayah lain harus diperkenalkan eksistensinya, supaya banyak orang tahu bahwa masih ada jalan lain untuk menuju suatu tempat dengan demikian tidak mengandalkan jalan utama yang sudah biasa dipergunakan banyak pengendara, bisa jadi lebih jauh namun tidak terjebak macet tapi dengan syarat jalan tersebut harus dalam keadaan baik dan layak untuk segala jenis kendaraan.

Muhlisin